Rabu, 02 Januari 2013

Sinopsis Codex

Depopulasi Program

            Setelah sukses mengorbitkan buku pertamanya yang berjudul The Jacatra Secreet yang membahas tentang simbol freemansonry di Kota Tua, Jakarta, kini Rizki Ridyasmara meluncurkan buku kedua yang diberi judul Codex. Buku kedua ini membahas tentang konspirasi jahat Pentagon dan Gedung Putih dengan penyisipan racun di atas meja makan. Berkat kontribusi Salsabila Kautsar Utama, buku ini dapat sampai ke tangan saya.
            Buku ini berjenis faksi (fakta dan imajinasi) yaitu berisi tentang fakta-fakta kandungan racun dalam makanan dan kisah cinta antara seorang Doktor dengan mantan sniper pasukan Australia. Kisah-kisah yang menegangkan dan penuh intrik terjalin dengan sempurna didukung oleh setting Italia, yang dapat menambah pengetahuan pembaca tentang kondisi geografis dan budaya negara yang dikenal dengan kelezatan espresonya ini.
            Tokoh utama dalam novel ini adalah George Marshall (mantan tentara Australia dari pasukan elite SAS-Australian) dan Doktor Alda Adrina (Saintis senior La Rocher Laboratory di Milan) yang bergerak dalam bidang biologi molekular. Cerita berawal dari kisah cinta antara George dan Adrina. Mereka dipertemukan di Laboratorium Medis Angkatan Laut AS NAMRU, Jakarta. Ketika itu, George Marshall tengah menyelidiki kematian dua turis Inggris di Bali akibat terpapar virus H5N1, sedangkan Doktor Adrina menjadi tamu kehormatan NAMRU yang diutus La Rocher Alboratory untuk melakukan pengujian sejumlah sampel darah yang menjadi bagian dari riset biomedisnya.
            Pertemuan demi pertemuan mereka lewati. Timbullah benih-benih cinta di antara mereka. Il colpo di fulmine ‘cinta pada pandangan pertama’. Setelah menjalani pacaran yang amat singkat, keduanya pun mengikat janji di sebuah gereja di Milan. Pernikahan mereka tidak disertai bulan madu karena keduanya harus segera kembali pada kesibukannya masing-masing. Doktor Adrina dengan tugas risetnya, sedangkan George segera meninggalkan Milan untuk kembali ke Sidney selama beberapa pekan.
            Cinta ternyata tak bisa langgeng saat keduanya jarang bertemu. Bohong besar jika ada orang yang menyatakan bahwa kualitas pertemuan lebih penting daripada kuantitas dalam memelihara hubungan. Keduanya, kuantitas dan kualitas, absolut diperlukan. Pernikahan itu pun tidak bertahan lama. George dan Adrina akhirnya sama-sama merasa jika pernikahan ternyata bukanlah medium yang tepat untuk mereka. Persahabatan yang tulus, mungkin itu yang lebih bermakna. Mereka pun memilih bercerai dengan baik-baik, namun keduanya tetap memelihara cincin kawinnya di jari manis masing-masing.
            Perpisahan itu, walaupun dilakukan dengan baik-baik, tetap menimbulkan luka di hati masing-masing. Dr. Adrina berusaha mengobatinya dengan menggunakan seluruh waktu dan perhatiannya di Laboratorium, sedangkan George memilih untuk memulai hidup baru sebagai seorang novelis. Adrina tetap di Milan, sedangkan George memilih untuk menetap di pinggiran Jakarta.
            Adrina menjadi target untuk dieksekusi karena pemegang microchip yang menjadi incaran mafia La Cosa Nostra, La Camorra, dan CIA (agen rahasia AS). Akan tetapi, Alda tidak menyadari hal itu. Alda meminta George untuk terbang ke Milan dalam rangka menyelidiki kasus kematian para saintis dengan cara mengenaskan.
            Pertemuan itu menimbulkan kembali benih-benih cinta yang telah lama mengendap. Keduanya tidak dapat menyembunyikan perasaan masing-masing bahwa mereka masih saling mencintai. Di depan mereka telah banyak pasang mata dan senjata yang siap memantau dan mengeksekusi mereka. Mereka dengan tidak sengaja telah melibatkan dua orang profesor yaitu Profesor Lombardo (rekan kerja Adrina di La Rocher dan Universitas Roma) dan Profesor Salvo Contrada.
            Vila Salvo Contrada menjadi tempat yang dianggap aman untuk membuka dan membahas microchip yang menjadi buruan banyak mafia. Isi microchip tersebut adalah depopulation program. Program ini didalangi oleh Pentagon dan Gedung Putih. Program ini resminya diluncurkan di masa Presiden Jimmy Carter. Dalam dokumen rahasia untuk U.S. National Security tertanggal 24 April 1974, berjudul “Implikasi Pertambahan Penduduk Dunia Atas Keamanan dan Kepentingan AS di Luar Negeri”, Kissinger menyatakan:
“Pengurangan jumlah penduduk dunia harus menjadi prioritas utama politik Luar Negeri AS. Amerika Serikat akan memerlukan bahan-bahan sumber mineral dengan jumlah banyak dari luar negeri, terutama yang berasal dari negara-negara berkembang. Dengan mengurangi jumlah penduduknya maka akan dapat meningkatkan prospek stabilitas, kebijakan kependudukan menjadi relevan berkaitan dengan sumber-sumber daya alam, pasokannya, dan kepentingan perekonomian AS sendiri.”
(Untuk melihat teks aslinya, silakan download di http://wlym.com/text/NSSM200.htm.)
            Codex Alimentarius sekarang telah menjadi kuda tunggangan bagi proyek jahat Depopulation. Nyaris seluruh produk pangan dewasa ini dari bibit tumbuhan hingga menjadi berbagai macam produk makanan dijual bebas di seluruh mal dan supermarket di dunia. Penggunaan vaksin yang dikampanyekan WHO sebagai anti penyakit atau untuk kekebalan tubuh manusia merupakan salah satu konspirasi yang mendukung program depupulation ini. Banyak vaksin justru merupakan zat berbahaya yang lebih jahat ketimbang penyakit yang ingin ditangkalnya. Dalam simposium perkembangan masa depan dunia di tahun 1957, vaksin dikampanyekan ke seluruh dunia dan hasilnya, sampai dengan tahun 1960-an, ribuan orang di seluruh dunia meninggal akibat kanker. Padahal vaksin itu dibuat dari sejumlah mikroba, antibiotik, zat kimia, dan sampingan bahan-bahan metal dan hewan. Dalam microchip itu dijelaskan bahwa “jeroan” dalam sejumlah vaksin populer terdapat kandungan formalin, janin anak ayam, jaringan sel diploid ketuban janin bayi aborsi, indikator merah albumin manusia, 2-phenoxyethenol lapisan malar ginjal monyet, phenol suatu persenyawaan yang dihasilkan dari penyulingan cairan gelembung tar dari kulit anak sapi, sel ginjal monyet dan serum anak sapi, aspartame, dll.).
            Program vaksinasi yang gencar dikampanyekan secara global sejak puluhan tahun lalu sesungguhnya tidak perlu dilakukan karena sistem tubuh manusia pada dasarnya telah memiliki ketahanannya tersendiri terhadap penyakit. Tuhan telah begitu sempurna menciptakan manusia. Hanya saja, walau demikian faktanya, sistem kekebalan tubuh seorang bayi itu sangat tergantung pada masa kehamilan sang ibu, apa yang dikonsumsinya selama mengandung dan bagaimana kondisi psikisnya. Sayangnya, saat kehamilan, banyak sekali obat-obatan kimiawi‒yangdirekomendasikan WHO‒yang masuk ke tubuh sang ibu sehingga malah memperlemah sistem kekebalan sang janin.
            Bentuk konspirasi lain yaitu dengan cara pencemaran udara dalam penyebaran virus, salah satunya virus flu burung. Pesawat terbang melakukan penyemprotan aerosol dalam bentuk chemtrails atau chemical trails merupakan garis lurus berwarna putih yang biasa disemprotkan pesawat terbang di langit, membentuk lintasan-lintasan putih di langit. Anak-anak biasanya senang melihat ini walau sebenarnya berbahaya. Penyebaran wabah dengan cara seperti ini pernah terjadi di Desa Ukraina ketika wabah H1N1 melanda wilayahnya.
            Depopulation program tidak hanya dilakukan lewat makanan, minuman, dan obat-obatan kimiawi, namun juga lewat peperangan, konflik, rekayasa bencana alam, termasuk rekayasa musim di berbagai belahan dunia. Tsunami Aceh di penghujung tahun 2004 merupakan bencana artifisial yang dipicu oleh ledakan mikro-nuklir Amerika (baca artikel yang berjudul “Did New York Orchestrate The Asian Tsunami” yang ditulis oleh Joe Vialls, 5-6 Januari 2005). Asumsi tersebut berdasarkan perbandingan gempa di Aceh dan di Nias. Gempa bumi 8,7 Skala Richter di Pulau Nias yang tidak menyebabkan tsunami padahal episentrumnya juga berada di laut di barat pulau Nias (Baca artikel “Why the March 8,7 Quake Did Not Cause a Tsunami” yang ditulis oleh Joe Vialls, 5 April 2005). Dalam artikel itu, Vialls dengan berani menyatakan jika gempa di Pulau Nias adalah gempa alami, sedangkan yang di aceh merupakan gempa artifisial. Tidak lama setelah menulis artikel itu, Vialls ditemukan tewas di Perth, Australia Barat, 17 Juli 2005. Keterangan rumah sakit menyebutkan serangan jantung sebagai penyebab kematiannya, padahal dia tidak sakit apapun. Di usianya yang ke-61 dia masih bugar.
            Semua konspirasi jahat di atas meja makan yang tersimpan di dalam microchip itu di-upload mereka untuk diketahui oleh semua warga dunia ini agar lebih selektif dalam menjalankan kehidupan ini. Hal tersebut sangat berisiko dan sangat  mengancam jiwa mereka. Akhirnya mereka pun menjadi buruan CIA. Adrina dan George mengungsi ke San Marino.
            Profesor Lombardo dan Profesor Salvo Contrada mati mengenaskan dengan luka tembak di kepala yang dilakukan oleh anggota CIA. George menjadi geram. Akhirnya dia mengaktifkan gadgetnya agar disadap signalnya. Peperangan pun dimulai. Dengan strategi luar biasa dan keterampilan menembak, George dapat menghapus semua agen CIA itu. Setelah selesai semua, George dan Alda terbang ke Jakarta untuk memulai kehidupan baru. CIA pun menutup kasus ini. Bencana yang mempersatukan sepasang suami isteri yang telah terpisah karena long distance in relationship. Mereka pun hidup bahagia. 
           
           

Selasa, 13 November 2012

Review Puisi Esai “Bunga Kering Perpisahan”



Judul Buku                  : Atas Nama Cinta, Sebuah Puisi Esai, Isu Diskrimasi dalam Untaian
  Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati.
Penulis                         : Denny J.A.
Penerbit                       : Renebook House of Enlightenment & Eternity
Kota Terbit                  : Jakarta Selatan
Tahun Terbit                : April 2012
Jumlah Halaman          : 215
Warna Jilid Buku        : merah
Jenis Buku                   : faksi (fakta dan imajinasi)
Nomor ISBN              : 978-602-19153-2-5
Cetakan                       : ke-1

Cinta di Titik Nol
Oleh Wilda Widyawati

Denny Januar Ali, seorang pakar politik yang kariernya telah melejit sampai ke dunia usaha, antara lain: konsultan, food and beverage, properti, dan tambang. Sebagai konsultan politik, dia memberikan kontribusi dalam menganalisis perkembangan politik Indonesia. Berikut buah pena karya pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963:
1.        Manufer Elit, Konflik dan Konservatif Politik Opini di: Koran Tempo , LKiS, 2006.
2.        Para Politisi dan Lagunya Kumpulan Kolom: Rakyat Merdeka, Sindo, LKis 2006.
3.        Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia ( Denny JA, LKis ) , 2006.
Tiga judul buku di atas adalah sebagian dari mahakaryanya. Seolah tidak puas dengan prestasi yang diraih, pria bergelar Ph.D. dari Ohio State University, Amerika Serikat bidang Comparative Politics ini melebarkan sayapnya ke ranah jurnalistik, host untuk program politik di Metro TV dan Radio Delta FM (2002), Direktur eksekutif Universitas Jayabaya Jakarta.
            Denny membuat gebrakan baru yaitu peluncuran sebuah buku Atas Nama Cinta yang berisi kumpulan puisi esai tentang isu diskriminasi dalam untaian kisah cinta yeng menggetarkan hati. Walaupun puisi, tulisannya tetap berbalut argumentatif. Buku ini berjenis faksi (fakta dan imajinasi) karena di dalamnya berisi rangkaian kejadian autentik dan dipadukan dengan cerita fiktif agar lebih variatif dan inovatif.
            Sama halnya dengan “Romi dan Yuli dari Cikeusik”, puisi “Bunga Kering Perpisahan” ini mengusung tema tentang kasih tak sampai. Dewi seorang gadis muslimah dan Albert anak pendeta. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil dan mengalami banyak kecocokan dalam berbagai hal. Ketika mereka tumbuh dewasa, timbullah benih-benih cinta. Rasa itu semakin kuat sehingga mereka pernah berjanji untuk terus hidup bersama. Kisah cinta mereka diketahui oleh ayah Dewi. Ayahnya langsung terperanjat emosi dan tanpa konfirmassi, dia langsung menjodohkan anaknya dengan Joko, seorang santri. Tekad ayah sudah bulat dan mutlak, pernikahan pun terjadi.
            Dewi dan Joko telah sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, namun Dewi tak mampu mengganti sosok Albert dalam hatinya. Semakin ingin dilupa semakin ingat masa-masa indah yang telah dibina dulu. Dewi sakit, Joko sakit, dan Albert pun sakit. Pada akhirnya tibalah waktu Joko dipanggil ke alam baka oleh Sang Khalik setelah mengarungi hidupnya dengan Dewi tanpa warna. Dewi sudah membulatkan tekad untuk segera menemui Albert. Namun, bagaikan disambar petir di siang bolong, tiba-tiba Dewi mendengar kabar dari Ibu Albert bahwa Albert telah meninggal dunia saat melakukan pendakian terakhir. Sepucuk surat diterima oleh Dewi, tulisan tangan Albert berbunyi: “Dewi, mungkin sudah kaukirim kembali bunga kering itu sekarang. Tapi yang akan kauterima hanya surat ini. Aku tak berniat mengingkari janji! Aku sekarang mungkin ada di alam lain dan janjiku tetap seperti dulu. Cintaku hanya untukmu yang tak sampai hanya karena kita beda agama.”
Dua laki-laki yang pernah dekat dengan Dewi akhirnya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Begitulah naluri manusia yang selalu mengikuti perasaan tanpa mengaitkan dengan logika. Cintailah makhluk-Nya karena Allah. Manusia merupakan makhluk fana, sedangkan Allah sejati tak lekang oleh waktu. Jika kita berprinsip seperti itu, kita tidak akan menggantungkan hidup dan mati kita terhadap ciptaan-Nya. Bagai bergantung di akar lapuk, ungkapan ini sangat cocok dengan kisah ini karena Dewi telah menggantungkan cintanya kepada Albert yang tak kuasa memberikan cinta yang kekal. Setelah kematian datang menjemputnya, dia pun pergi menggoreskan kesedihan di relung jiwa Dewi. Jika Dewi ikhlas menjalani semua itu, mungkin kejadiannya tidak akan sepelik itu. Joko pun akan bertahan hidup di dunia ini karena cinta. Jika Albert membuka hati untuk wanita lain, dia pun akan hidup bahagia dan tidak menyia-nyiakan waktu karena hidup ini hanya satu kali. Secara medis juga telah terbukti bahwa dengan merasa bahagia secara mental dan fisik akan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh seseorang.
            Nabi Muhammad SAW., menggolongkan manusia menjadi tiga, yaitu: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka dia adalah orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia adalah orang yang celaka.” Dewi dan Albert termasuk golongan ketiga dari hadis tersebut karena semakin hari kehidupan mereka semakin buruk.  Nabi SAW., "Pada waktu malam saya diisrakkan sampai ke langit, Allah SWT., telah memberikan lima wasiat, diantaranya :
1.    Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia karena sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau.
2.    Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.
3.    Bersungguh-sungguhlah engkau mencari surga.
4.    Putuskan harapan dari makhluk karena sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di tangan mereka.
5.    Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajud karena sesungguhnya pertolongan itu berserta qiamullail.
Kelebihan buku ini adalah terdapat footnote atau catatan kaki yang memperluas cakrawala kita tentang ilmu-ilmu yang belum pernah kita ketahui. Jadi, membaca buku fiksi, tapi seperti membaca buku nonfiksi. Penulis berimajinasi sesuai dengan bukti autentik. Ini merupakan terobosan baru dalam dunia sastra. Namun, dalam membaca buku ini dibutuhkan personal yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Tanpa pengetahuan yang memadai dikhawatirkan terjadi miskonsepsi.
Pemahaman sekuler lebih ditonjolkan dalam buku ini. Atas segala ketidakmampuannya, Albert pun berkata, “Umat manusia, sudah lebih dari 150 ribu tahun umurnya. Berturut-turut agama pun diturunkan, diwartakan, dipertentangkan. Manusia lebih tua dari agama. Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya. Cinta lebih tua dari agama. Janganlah agama mengalahkan cinta”. Begitulah kerangka berpikir penulis yang dituturkan lewat tokoh dalam cerita ini. Lalu, apa dasar penulis mengatakan cinta lebih tua dari agama? Sejarah masa lalu dalam hidup manusia tidak bisa dijadikan dalil yang akurat karena kehidupan manusia tidak sama masanya. Kita tidak bisa menghakimi suatu perkara di zaman yang berbeda. Ada banyak hal yang lebih tua dari agama. Apa itu berarti tidak bisa diatur oleh agama? Justru agama datang untuk menertibkan yang lebih tua. Jika menggunakan persepsi seperti ini, manusia pun bisa dikategorikan lebih tua daripada agama. Jadi, manusia mana yang hidupnya tidak diatur oleh agama?
Berikut ini paham yang salah tentang pernikahan beda agama menurut Ali (2012) dalam Mulia, dkk. (2003):
Ada keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW., pernah menikah dengan Maria Qibtiyah, seorang perempuan beragama Kristen Koptik Mesir dan Sophia yang beragama Yahudi. Para sahabat seperti Usman bin Affan menikah dengan Nailah binti Quraqashah al-Kalbiyah yang Nasrani, Thalhah bin Ubaidillah menikah dengan perempuan Yahudi di Damaskus, Huzaifah menikah dengan perempuan Yahudi di Madyan. Para sahabat lain, seperti Ibnu Abbas, Jabir, Ka’ab bin Malik, dan Al-Mughiroh bin Syu’ban juga menikah dengan perempuan-perempuan ahli kitab. Keterangan ini disampaikan oleh Prof. Musdah Mulia, Prof. Kautsar Azhari Noer, dan Prof. Zainun Kamal dalam Klub Kajian Agama (KKA) ke-200, yang digelar Yayasan Paramadina pada 17 Oktober 2003 dalam laporan “Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama”.
Pernyataan tersebut sangat kontradiksi dengan kenyataan sebenarnya karena tidak ada sejarah dan ayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah menikah dengan Maria Qibtiyah. Fakta yang terjadi adalah Maria Qibtiyah seorang hamba sahaya nabi Muhammad yang telah diperlakukan layaknya seorang istri oleh beliau. Tradisi pada zaman tersebut yaitu seorang hamba sahaya tidak dinikahi oleh tuannya. Sebelum Islam diturunkan, perbudakan sangat merajalela dan tidak ada batasan yang membatasi, artinya siapa saja bisa dijadikan budak dengan cara apapun, seperti dirampas, diculik, dan sebagainya. Namun ketika Islam datang, perbudakan sangat dibatasi, yaitu hanya tawanan perang yang boleh dijadikan budak, sebab hal ini sudah menjadi konvensi internasional, orang Islam pun yang ditawan oleh musuh akan dijadikan budak. Namun demikian, Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memerdekakan para budak, diantaranya dijadikan sebagai tebusan untuk membayar kafarat dalam beberapa pelanggaran syariat, seperti kafarat sumpah, membunuh dengan tidak sengaja dan sebagainya. Dalam Islam budak perempuan dihalalkan untuk digauli sebagaimana layaknya seorang isteri, namun budak tersebut hanya boleh digauli oleh tuannya saja. Artinya budak yang dimiliki oleh seorang bapak tidak boleh digauli oleh anaknya atau siapapun juga. Bahkan apabila dia telah melahirkan anak, ummul walad, tuannya tidak boleh menjualnya kepada yang lain, tetapi dia harus terus memeliharanya atau memerdekakannya. Diantara dalilnya adalah ayat di atas dan beberapa ayat berikut ini: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina” (QS. Annisa:24). Perlu dicatat karena ayat-ayat Alquran itu diwahyukan oleh Allah secara bertahap, masa itu hamba sahaya masih berlaku. Kita tidak bisa menghakimi suatu perkara di zaman yang berbeda karena waktu itu belum ada pedoman yang mengecam perlakuan terhadap hamba sahaya.
Pada zaman dahulu pernikahan ahlul kitab–Nasrani pengikut nabi Isa, Yahudi pengikut nabi Musa dan nabi Daud–diperbolehkan karena mereka memegang satu kepercayaan yaitu Allah SWT. Akan tetapi, saat ini kitab Injil, Zabur, dan Taurat sudah mengalami penyimpangan tentang penyekutuan Allah. Di dalam Injil dahulu, nabi Muhammad sebagai penutup, sedangkan nabi Isa adalah utusan Allah. Tapi, kitab Injil yang sekarang mengatakan bahwa nabi Isa yang dinamakan oleh mereka sebagai yesus dianggap sebagai anak Allah. Allah sudah menghapuskan pernikahan ahlul kitab dalam surat (Albaqarah:221) yang berbunyi: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
Islam membolehkan pernikahan beda agama kalau terpaksa dan syaratnya laki-laki itu harus muslim. Denny J.A., Prof. Musdah Mulia, Prof. Kautsar Azhari Noer, dan Prof. Zainun Kamal mengambil dalil dalam Alquran sepotong-sepotong, jadi pemahamannya pun setengah-setengah. Jika hal ini terjadi, kita bisa tersesat terutama kaum awam yang mudah terhasut oleh paham baru. Contoh kutipan ayat yang hanya diambil setengah, alladinahum an solatihim saahun ‘bagi orang yang lalai di dalamnya’, sangat jelas terlihat penyimpangannya. Hal ini merupakan amanah dari Allah jika kita keliru dalam penyampaiannya, azab Allah sangat pedih. Musda tidak mengisahkan lagi kalau perempuan yang beda agama itu harus mengikuti agama suami.  Fatwa MUI menyatakan bahwa seandainya sudah terjadi pernikahan, istri wajib ikut agama suami dan suami harus yang muslim. Kalau pernikahan wanita muslim dengan laki-laki nonmuslim itu jelas haram secara hukum dan syara. Musda mulia juga tidak mengerti kedudukan nonmuslim zaman dahulu dengan sekarang itu berbeda.  “Dan dihalalkan mangawini wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu.” (Almaidah:5)

Taurat adalah tulisan berbahasa Ibrani, berisikan syariat (hukum) dan kepercayaan yang benar dan diturunkan melalui Musa. Isi pokok Taurat adalah sepuluh firman Allah bagi bangsa Israel. Selain itu, Taurat berisikan tentang sejarah nabi-nabi terdahulu hingga Musa dan kumpulan hukum. “(Tuhan Allah) telah menurunkan kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang terdahulu dari padanya, lagi menurunkan Taurat dan Injil” (Alimran: 3). Kemudian, dikirimkanlah Zabur kepada nabi Daud yang berisi pujian untuk Allah. Namun, kitab ini tidak mengandung syariat karena Daud diperintahkan untuk meneruskan syariat yang telah dibawa oleh Musa. “Dan kami telah memberi kitab Zabur kepada Nabi Daud” (Annisa: 163).  Setelah itu, muncullah Injil yang pertama kali ditulis menggunakan bahasa Suryani melalui murid-murid Isa untuk bangsa Israel sebagai penggenap ajaran Musa. Kata Injil sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti ‘kabar gembira’. Injil-injil tidak mempunyai pembahasan sistematis mengenai satu tema atau tema-tema tertentu meskipun di dalamnya banyak membahas hal kerajaan Surga. “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa” (Almaidah 5:46). Akhirnya Allah mengwahyukan Kitab Suci Alquran kepada Nabi Muhammad saw., pelengkap dari ketiga kitab terdahulu, sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia karena di dalamnya berisi panduan filsafat semesta, catatan sejarah, peringatan-peringatan dan motivasi, dasar-dasar hukum, serta doa-doa. “Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (Alquran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam” (QS. Yunus:37). “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yusuf:2).

Saat ini, Taurat, Zabur, dan Injil telah diselewengkan isinya. “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Alquran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” (QS. Al An’am:91). 
               Kelemahan buku ini adalah kurang utuhnya cerita yang memberikan kesan menggantung terlihat dari fakta yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah menikah dengan wanita beragama Kristen. Denny seharusnya memberikan klarifikasi tentang kondisi agama dan kitabnya pada zaman dahulu hingga sekarang agar tidak terjadi indoktrinisasi dan miskonsepsi untuk para pembaca awam. Buku ini cocok untuk kaum yang sudah sangat paham tentang agama, politik, budaya, dan sosial.                     

Selasa, 18 September 2012

Alasan Pemecatan Paling Populer

Tak ingin karier Anda berakhir dengan pemecatan? Jangan pernah melakukan hal-hal berikut.

1. Tidak disiplin
Setiap perusahaan memiliki peraturan masing-masing. Ada yang mengharuskan datang pukul 08.00, ada juga yang mewajibkan memakai seragam. Jika tidak bisa tunduk pada peraturan perusahaan, maka besar sekali kemungkinan Anda untuk dipecat.

Pelajari dengan baik peraturan perusahaan sejak awal penandatanganan kontrak kerja. Jika memang ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang Anda anut, sebaiknya bicarakan sejak awal. Jangan sampai Anda justru dianggap sebagai karyawan yang membangkang alias tidak patuh.

2. Tidak fleksibel
Tugas Anda memang sudah ditentukan sesuai dengan jabatan yang telah diberikan, namun terkadang tak tertutup kemungkinan Anda masih harus mengerjakan hal yang lain (demi mendukung tugas utama). Menolak pekerjaan tambahan bukanlah hal yang baik. Itu akan memberikan kesan bahwa Anda pemalas, tak bisa bekerjasama juga tak patuh pada perintah atasan.

3. Malas-malasan
Di kantor Anda lebih sering buka akun jejaring sosial ketimbang kerja, lebih sering tidur siang ketimbang berdiskusi soal pekerjaan. Tak hanya itu, Anda bahkan sering meninggalkan meja kerja tanpa keterangan jelas. Jika ini terus berlanjut, Anda memberi alasan kuat bagi atasan untuk memecat Anda.

4. Koruptor
Tak ada alasan untuk memaafkan seorang koruptor kan?

5. Ratu/Raja Drama
Anda selalu membesar-besarkan konflik dan masalah, baik masalah pribadi atau kantor. Tak jarang Anda membuat kehidupan kantor layaknya sinetron yang sarat drama. Suasana kantor jadi tak nyaman karena Anda. Jangan heran jika surat pemecatan Anda terima.

6. Pelecehan seksual
Pelaku pelecehan seksual tak bisa dimaafkan, termasuk di lingkungan kantor.

7. Tak bisa beradaptasi dengan lingkungan
Dalam bekerja, Anda harus beradaptasi dengan lingkungan. Tak sedikit pekerjaan Anda yang akan bersinggungan dengan divisi lain. Jika Anda tak bisa beradaptasi dan menjadi karyawan yang individual, kemungkinan besar nama Anda akan muncul di daftar teratas orang-orang yang akan dipecat. Kemampuan bekerjasama dan adaptasi adalah salah satu kunci sukses dalam bekerja.

 

Senin, 14 Mei 2012

Cukang Taneuh (Ciamis), Miniatur Grand Canyon (Corolado, Amerika Serikat)


Kamis, 19 April 2012, Saya, Hani, Reccy, dan Endah berbagi cerita di kamar mess saya. Awalnya, Reccy bercerita tentang pengalaman dia ketika rafting ‘arung jeram’ di Citarik. Kami pun sangat antusias mendengarkan kronologinya dan terpacu untuk pergi ke sana. Iseng-iseng Reccy googling tempat-tempat wisata alam di area Jawa Barat, mulai dari Sawarna Beach (Kabupaten Lebak, Banten). Area ini sangat terkenal dengan keeksotisan penghuni alam dasar laut dan pasir putih yang menawan. Pencarian beralih ke Umang Island (Selatan Ujung Kulon, Desa Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten). Pulau ini mirip dengan Gili Trawangan, Lombok. Jika Anda berdomisili di Jawa Barat dan ingin berkunjung ke Gili Trawangan, don’t cry and don’t sad, gak usah nyebrang pulau, cukup menginjakan kaki Anda ke Umang Beach, segala hasrat Anda akan terpenuhi. (Hehe...Sotoi banget, padahal saya aja belum ke sana :D). Pencarian terakhir yaitu Pangandaran Beach (Ciamis, Jawa Barat). Hal yang mengundang ketertarikan kita adalah terdapat sebuah miniatur Grand Canyon, Corolado, Amerika Serikat, di tempat itu. Setelah melakukan voting, kami pun berencana untuk berlibur ke Pangandaran Beach minggu depan.
 
Sehari menjelang kepergian ke Pangandaran Beach, dua personel tim penjelajah tidak bisa ikut karena harus mengemban tugas instansi. Yang tersisa hanya empat orang. Dengan penuh skeptis kami mencoba melangkah. Tiba-tiba pukul 16.00 WIB, 26 April 2012 kami pun sepakat untuk tetap pergi walaupun hanya empat orang. Saya dengan sigap segera menelefon ayah saya untuk mempersiapkan mobil dan sopir. Teh Yuyun browsing hotel. Risdha menelefon hotel. Kami bertiga rapat sejenak. Keputusannya adalah Jumat, 27 April 2012, pukul 17.00 kami siap berangkat.
 
Baju, peralatan mandi, peralatan salat, sunblock, sudah masuk koper. Pukul 17.30 jemputan kami pun tiba. Namun, selama perjalanan di area Parungkuda – Cibadak – Cisaat kami terjebak macet karena ada burik (bubaran pabrik) hehe... Kami berhenti di Kota Sukabumi untuk mampir ke Alfamart dan ATM. Sepuluh menit kemudian, kami mampir lagi di restoran seafood (isi energi dulu, supaya bisa tidur nyenyak selama perjalanan J). Kami pun berhenti lagi di sebuah masjid mewah dan bersih, masih di kawasan Sukabumi yang mendekati Cianjur. Selesai cuci muka, sikat gigi, salat Magrib dan Isya, kami langsung melanjutkan perjalanan tanpa mampir-mampir lagi. Pukul 4 pagi kami sampai pintu gerbang area Pangandaran Beach. Biaya masuknya adalah Rp27.700,00. Sepanjang perjalanan banyak calo yang menawarkan hotel. Akhirnya dengan bantuan mereka, kami pun menemukan Pondok Wisata Teratai, Jalan Pantai Barat, Belakang Pondok Seni Pangandaran. Fasilitas double big spring bed, kamar mandi dalam, AC, TV LCD, Cermin besar, Air aqua galon lengkap dengan dispensernya. Harga sewa Rp200.000,00 per malam. Kapasitas maksimal 4 orang. Tapi, 6 orang juga bisa masuk, satu kasur memuat 3 orang.
 
Kami rehat sejenak menunggu azan subuh. Pukul 5 kurang azan subuh pun berkumandang. Kami secara bergiliran antre kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan  salat berjamaah secara berpasang-pasangan karena keterbatasan tempat. Waktu yang tersisa 2 jam untuk memaksimalkan tidur karena selama perjalanan, kenyamanan tidur terganggu disebabkan perjalanan berkelok-kelok. Kami bangun dengan segar bugar dan indahnya mentari menyambut di pagi itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan penjual nasi uduk. Menu sarapan pagi itu adalah nasi uduk, telur asin, dan gorengan.
Di bawah ini foto-foto tempat kami menginap
Contact Wisma Teratai

Tampilan Garasi Wisma Teratai 
 Tampilan Halaman Depan Wisma Teratai

 Tampilan Kamar Mandi Wisma Teratai

Tampilan Kamar Tidur Wisma Teratai

Pukul 08.30 kami mulai meluncur ke Cijulang. Jarak Pangandaran – Cijulang adalah 31 km, jadi bisa ditempuh ½ jam berkendaraan dengan kondisi jalan yang cukup rusak. Tujuan pertama kami adalah Green Canyon yang terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tiba di Cijulang sekitar pukul 09.00. Setelah memarkir mobil, kami segera ke Dermaga (tempat menyimpan perahu untuk mengantarkan pengunjung dalam menyusuri sungai menuju Green Canyon). Harga sewa perahu Rp75.000,00 dengan kapasitas maksimal 5 orang.  Salah satu pemandangan yang memesona adalah lorong gua dengan stalaktit dan stalaknit yang terapit oleh dua bukit yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun membuat kami merasa berpetualang. Selain itu, terdapat sebuah jembatan yang menjulang dan menghubungkan kedua bukit di atas sungai yang mengalir sepanjang 40 meter dan membentuk sebuah terowongan di atas aliran sungai yang berwarna hijau. 
             Nama asli tempat ini adalah Cukang Taneuh ‘jembatan tanah’ yang tertera di pintu masuk tempat wisata ini. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka (itu dulu, tapi sekarang tidak demikian). Asal muasal pemberian nama Green Canyon disebabkan oleh seorang turis berwarga negara Perancis yang berwisata ke tempat ini dan menamainya dengan sebutan Green Canyon sejak tahun 1993 dan sampai sekarang nama ini dikenal oleh banyak masyarakat. Suasana begitu gelap karena sang mentari belum muncul. Alhamdulilah saat itu sedang musim kemarau, jadi air begitu jernih berwarna hijau toska dan kami pun bisa berenang menyusuri sungai itu. Namun jika cuaca buruk atau musim hujan, air sungai berubah warna menjadi cokelat dan pengunjung dilarang berenang. Dalam rangka menikmati kesegaran air sungai di lembah hijau ini, pengunjung diwajibkan menggunakan pelampung dengan ditemani pemandu yang berpengalaman karena kedalaman air dan derasnya arus sungai. Kita hanya boleh berenang di kawasan khusus bertanda kedalaman 3 meter.
Selain menjelajahi sungai, Anda yang bernyali besar dapat memacu adrenalin dengan melompat dari sebuah batu besar yang dinamakan Batu Payung dan berjarak 4 meter menuju sungai. Harga pelampung Rp25.000,00 dengan durasi yang telah ditentukan. Jika overtime, Anda terkena charge.
Kami pun mengabadikan momen-momen indah itu.
 Menjelang Keberangkatan
 Gerbang Utama Green Canyon

 Pelabuhan Bangsal (Tempat bertengger perahu-perahu untuk mengantar pengunjung menuju muara Sungai Green Canyon)


Perjalanan menuju Green Canyon

 Air payau (perpaduan air laut dan sungai)

 Sinar matahari membiaskan air sungai

 Mata air yang mengucur seperti hujan


 Ah.....Segarnya.....
Terkena insiden kaki keram

Untaian air ini menyejukkan kepala kami

Setelah menikmati kesegaran sungai Green Canyon, kami pun segera tancap gas menuju Batukaras Beach. Objek wisata yang satu ini merupakan perpaduan nuansa alam antara objek wisata Pangandaran dan Batu Hiu dengan suasana alam yang tenang, gelombang laut yang bersahabat dengan pantainya yang landai membuat pengunjung kerasan tinggal di kawasan ini. Terletak di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang dengan jarak ± 34 km dari Pangandaran. Harga tiket masuk kawasan ini adalah Rp27.700,00 per mobil.
Saat itu, kami naik banana boat. Transaksi pun terjadi. Perempuan identik dengan tawar menawar. Alhamdulilah, si akangnya membanting harga mulai dari Rp100.000,00 per orang menjadi Rp25.000,00 per orang. Murah banget. Kami pun segera beraksi di tengah laut J. Setelah puas berenang dan bermain ombak, kami menuju kamar mandi untuk membilas sisa-sisa pasir yang yang nyangkut di baju kami. Dengan sangat terpaksa dan perasaan tak nyaman, kami pulang menuju penginapan dengan keadaan basah kuyup. Waktu terasa lama, alhamdulilah tiba juga di losmen tercinta.
Beginilah suasana yang terekam dari balik lensa kamera.
 Bersahabat dengan ombak...

 Kiat-kiat sebelum menuju banana boat

 Banana boat siap meluncur

Usai makan siang, kami tidur sebentar untuk menyegarkan badan. Pukul 16.30, Nurmala Sali, Adik Teh Yun menjemput kami untuk bersepeda ria di area Pangandaran. Dengan dikomandoi Adit (tunangan Mala), kami pun aman menyusuri jalan. Suasana saat itu begitu cerah, angin membelai begitu menyejukkan. Tak lupa, kami pun berhenti di pesisir pantai untuk menikmati suasana dan yang terpenting adalah mengabadikan momen terindah tersebut. Setelah puas menyisir pantai, kami pun mengayuh kembali sepeda untuk menjemput sunset. Namun dewi fortuna tidak berpihak kepada kami, sunset pun sudah lama berlalu. Kami hanya menikmati es kelapa dengan keindahan senja di malam itu. Kami pun pulang dengan harapan sirna.

 Bersepeda ria di sore hari
 View Pangandaran Beach

 Senja di Pangandaran Beach

Sore-sore minum es kelapa untuk menghilangkan lelah karena telah mengayuh sepeda selama berjam-jam

Selesai salat Isya, kami menyusuri area Pangandaran untuk mencari makan malam. Karena kondisi perut yang kenyang gak jelas (mungkin terlalu banyaknya makan siang yang masuk ke perut kami), Mie bakso Pak Aciplah yang menjadi target kami. Mienya sehat lho, si tetehnya langsung menggiling adonan mie di tempat (fresh from the oven) yummy.... Minumannya variatif, harga terjangkau. Restauran ini menggunakan daging sapi dalam adonan baksonya (jarang-jarang di pesisir pantai ada yang jualan bakso seperti ini). Tempat ini terletak di belakang Hotel Laut Biru. Setelah selesai mengisi amunisi, kami menuju pasar ikan dan pasar suvenir karena tempat ini sangat strategis. Hari itu sangat melelahkan dan tidur pun sangat pulas.
Pukul 07.00 kami prepare pulang. Kami mengejar waktu karena esok hariny harus beraktivitas kembali. Di tengah perjalanan, area Ciamis, kami mampir di rumah makan Ampera (khas Sunda). Menu makanannya cocok banget dengan lidahku dan harganya pun terjangkau. Semua makanan di sana tersaji panas-panas karena semua ikan langsung digoreng sesuai dengan pesanan pelanggan. Namun, kekurangannya kita harus antre dan menunggu agak lama. Lalu, kami salat zuhur dan Asar jamak takdim.


Prepare to come back to Sukabumi


Perjalanan dilanjutkan ke Rajapolah atau king action hehe. Nama Rajapolah identik dengan pusat perdagangan kerajinan tangan. Berbagai jenis produk anyaman dapat dijumpai di jalan utama Rajapolah, sebuah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Tas, kipas besar, bingkai cermin, keranjang sampah, tempat tisu, sandal, tikar, dompet, dan barang anyaman lain terpajang di toko-toko yang berjejer di jalan sepanjang 1 kilometer itu.
Di sepanjang jalan Rajapolah terdapat sekitar 40 toko yang menjajakan produk kerajinan tangan berbahan dasar pandan, mendong, eceng gondok, rotan, kayu, dan kain bordir. Produk yang diminati pengunjung biasanya tas anyaman, kotak multifungsi, dan kap lampu ukuran kecil. Harga produk yang ditawarkan sekitar Rp15.000,00 – Rp 300.000.
Kerajinan anyaman di Rajapolah yang merupakan usaha turun-temurun telah mengalami banyak kemajuan, baik dari segi pemasaran maupun keanekaragaman produk. Kalau dulu anyaman pandan hanya berbentuk tikar, sekarang sedikitnya ada 50 jenis barang yang siap untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Rajapolah terletak di kabupaten Tasikmalaya, berjarak 90 kilometer dari Bandung dan dapat ditempuh dengan bus atau kendaraan pribadi dalam waktu sekitar 1,5 jam. Tapi jangan salah, sekitar satu kilometer sebelum mencapai Rajapolah terdapat fly over yang menghubungkan Bandung dengan pinggiran Kota Ciamis menuju Yogyakarta tanpa melalui Kota Tasikmalaya dan Ciamis. Untuk mencapai Rajapolah, kita harus mengambil jalan bawah yang menuju Kota Tasikmalaya.
Setelah puas belanja, kami pun menuju asrama.

Minggu, 25 Maret 2012

Semarak Siswa SMA IC Al Kausar dalam Lomba Menulis Artikel di SMAN 3 Sukabumi

   Dengan latar belakang untuk mewadahi kreativitas siswa dalam menulis dan memberi pengalaman kepada mereka, guru-guru melakukan sosialisasi lomba  yang diselenggarakan SMA N 3 Sukabumi; Ibu Rina Fitriani, S.Pd. sebagai pembimbing dan pendamping kelas X, sedangkan Ibu Wilda Widyawati, S.Pd. mendampingi kelas XI.
   Informasi lomba –sebagaimana biasanya-- mendapat sambutan hangat dari siswa. Dari sosialisasi tersebut, terdaftarlah 8 (delapan) siswa dari kelas X dan 12 (dua belas) siswa dari kelas XI. Untuk pembekalan, Bu Rina dan Bu Wilda memberikan pelatihan dan motivasi tentang teknik menulis artikel yang baik dan benar. Selain itu, siswa ditugaskan untuk membaca contoh-contoh artikel sebagai referensi.
   Lomba digelar pada Rabu 15 Februari 2012 bertempat di Aula SMAN 3 Sukabumi mulai pukul 09.00 sampai dengan 11.00. Tampak, para siswa penuh konsentrasi dan fokus dalam menulis. Tema yang diangkat dalam perlombaan tersebut adalah “Peran Pemuda dalam Melestarikan Budaya Bangsa Indonesia”.
   Pada tanggal 24 Februari 2012, panitia mengumumkan hasil perlombaan tersebut, dan alhamdulillah, ananda Siti Fatimah (X3) meraih juara II (kedua) dan Annisha Ayuningdiah (XI IPA1) sebagai juara III (ketiga). Mereka berdua berhak atas hadiah berupa piala dan sejumlah uang pembinaan.
   Para guru berharap bahwa ajang kompetisi ini dapat mengembangkan potensi siswa dalam keterampilan menulis dan melatih siswa dalam berpikir kritis. Dengan hasil yang telah dicapai, semoga menumbuhkan antusiasme para siswa lainnya untuk mengikuti perlombaan berikutnya. (WD dan RF)